HAKIKAT FISIKA
Ferisha Fizalita
Guru Fisika SMA Negeri 3 Kota Jambi
Fisika
merupakan cabang dari sains. Sains dalam bahasa Inggris “science” berasal dari
bahasa Latin “scientia” yang berarti pengetahuan. Sains adalah suatu ilmu
pengetahuan yang mempelajarai gejala alam melalui pengamatan, eksperimen, dan
analisis. Oleh karena itu sains disebut sebagai ilmu pengetahuan alam (IPA).
Fisika
berasal dari bahasa Yunani yang berarti “alam”. Fisika adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari sifat dan gejala pada benda-benda di alam. Gejala-gejala ini
pada mulanya adalah apa yang dialami oleh indra kita, misalnya penglihatan
menemukan optika atau cahaya, pendengaran menemukan pelajaran tentang bunyi,
dan
indra
peraba yang dapat merasakan panas.
Mengapa
kalian perlu mempelajari Fisika? Fisika menjadi ilmu pengetahuan yang mendasar,
karena berhubungan dengan perilaku dan struktur benda, khususnya benda mati.
Menurut sejarah, fisika adalah bidang ilmu yang tertua, karena dimulai dengan
pengamatanpengamatan dari gerakan benda-benda langit, bagaimana lintasannya,
periodenya, usianya, dan lain-lain. Bidang ilmu ini telah dimulai
berabad-abadyang lalu, dan berkembang pada zaman Galileo dan Newton. Galileo merumuskan
hukum-hukum mengenai benda yang jatuh, sedangkan Newton mempelajari gerak pada
umumnya, termasuk gerak planet-planet pada sistem tata surya
Pada
zaman modern seperti sekarang ini, ilmu fisika sangat mendukung perkembangan
teknologi, industri, komunikasi, termasuk kerekayasaan (engineering), kimia, biologi,
kedokteran, dan lain-lain. Ilmu fisika dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
mengenai fenomena-fenomena yang menarik. Mengapa bumi dapat mengelilingi matahari?
Bagaimana udara dapat menahan pesawat terbang yang berat? Mengapa langit tampak
berwarna biru? Bagaimana siaran/tayangan TV dapat menjangkau tempat - tempat
yang jauh? Mengapa sifat-sifat listrik sangat diperlukan dalam sistem
komunikasi dan industri? Bagaimana peluru kendali dapat diarahkan ke sasaran
yang letaknya sangat jauh, bahkan antarbenua? Dan akhirnya, bagaimana pesawat
dapat mendarat di bulan? Ini semua dipelajari dalam berbagai bidang ilmu
fisika.
Fisika
merupakan salah satu cabang dari sains sehingga hakikat fisika adalah sama
dengan hakikat Sains yaitu Fisika sebagai produk (a body of knowledge), fisika sebagai sikap (a way of thinking), dan fisika sebagai proses (a way of investigating). Jadi dapat dikatakan bahwa hakikat fisika
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajarai materi dan energi serta interaksi
antara keduanya melalui serangkaian proses yang dikenal dengan motede ilmiah.
Proses tersebut dibangun atas dasar sikap ilmiah dan menghasilkan produk yang
tersusun atas tiga komponen terpenting berupa konsep, prinsip, teori yang
berlaku secara universal.
1. Taksonomi Fisika
Bidang
fisika secara garis besar terbagi atas dua kelompok, yaitu fisika klasik dan
fisika modern. Fisika klasik bersumber pada gejala-gejala yang ditangkap oleh indra.
Fisika klasik meliputi mekanika, listrik magnet, panas, bunyi, optika, dan
gelombang yang menjadi perbatasan antara fisika klasik dan fisika modern.
Fisika modern berkembang mulai abadke-20, sejak penemuan teori relativitas
Einstein dan radioaktivitas oleh keluarga Curie.
Terdapat
tiga cara dalam penyusunan taksonomi atau pengelompokan cabang-cabang ilmu
fisika :
a)
Berdasarkan tujuannya
·
Fisika
murni,
bertujuan membangun teori tentang keteraturan alam
· Fisika
terapan,
berupaya mempelajari cara memanfaatkan berbagai pengetahuan (teori, model, dan
kaitan-kaitan fisis) untuk tujuan-tujuan khusus dan umum
b)
Berdasarkan perannya
·
Fisika
teoritik,
berupaya menyusun model (matematis) bagi keteraturan alamiah, memperkirakan
hasil-hasil eksperimen dan pengamatan, serta menjelaskan hasil-hasil eksperimen
dan pengamatan.
·
Fisika
eksperimental/observasional, berupaya melakukan eksperimen dan
pengamatan terkait dengan pengkajian teori atau model-model matematis yang
diusulkan, mengumpulkan data-data, dan melakukan eksplorasi gejala-gejala
alamiah.
c)
Berdasarkan objek material
Dalam
hal ini terdapat berbagai cabang, yaitu fisika partikel, fisika bumi
(geofisika), fisika atom, fisika nuklir, fisika plasma, fisika komputasi, fisika
material, ekonofisika, biofisika, dan ilmu lain yang masih berkaitan dengan
objek material.
2. Hubungan ilmu fisika dengan ilmu pengetahuan lain
Tujuan mempelajari
ilmu fisika adalah agar kita dapat mengetahui bagian-bagian dasar dari benda
dan mengerti interaksi antara benda-benda, serta mampu menjelaskan mengenai
fenomena-fenomena alam yang terjadi. Walaupun fisika terbagi atas beberapa
bidang, hukum fisika berlaku universal. Tinjauan suatu fenomena dari bidang
fisika tertentu akan memperoleh hasil yang sama jika ditinjau dari bidang
fisika lain. Selain itu konsep-konsep dasar fisika tidak saja mendukung
perkembangan fisika sendiri, tetapi juga perkembangan ilmu lain dan teknologi.
Ilmu fisika menunjang riset murni maupun terapan. Ahli-ahli geologi dalam
risetnya menggunakan metode-metode gravimetri, akustik, listrik, dan mekanika.
Peralatan modern di rumah sakit-rumah sakit menerapkan ilmu fisika. Ahli-ahli astronomi
memerlukan optik spektografi dan teknik radio. Demikian juga ahli-ahli
meteorologi (ilmu cuaca), oseanologi (ilmu kelautan), dan seismologi memerlukan
ilmu fisika.
3.
Produk
Ilmiah
a) Fakta, adalah
keadaan atau kenyataan yang sesungguhnya dari segala peristiwa yang terjadi di
alam
b)
Konsep, adalah
abstraksi dari berbagai kejadian, objek, fenomena, dan fakta
c)
Rumus, adalah
pernyataan matematis dari suatu fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori
d) Prinsip/hukum
fisika,
adalah suatu aturan dasar yang menyimpulkan pengamatan berkaitan untuk
menjelaskan suatu pola kejadian alam.
e) Teori
fisika,
adalah suatu penjelasan berdasarkan pada berbagai pengamatan yang didukung oleh
hasil-hasil eksperimen
f) Model, adalah
suatu ide, struktur, atau sistem dapat dipresentasikan untuk memodelkan
fenomena yang tidak dapat dilihat yang coba dijelaskan oleh ilmuwan.
4.
Sikap
Ilmiah
Dalam melakukan
kerja ilmiah, Anda harus memiliki sikap ilmiah atau sikap yang sesuai dengan
kaidah ilmu pengetahuan. Berikut ini beberapa sikap ilmiah yang perlu dimiliki
:
a)
Membedakan Fakta dan Opini
Dapat membedakan antara fakta dan opini adalah salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh seorang saintis. Fakta adalah kenyataan, sedangkan opini adalah pendapat. Fakta dapat dikenali oleh alat indra dan dapat diukur secara kualitatif. Pernyataan dalam bidang IPA haruslah berupa pernyataan eksak, yaitu tepat dan spesifik. Adapun opini merupakan tanggapan atau tafsiran seseorang. Berikut ini contoh fakta dan opini.
b)
Berpikir Kritis
Ketika Anda
menilai dan menyaring suatu informasi yang diterima, Anda berarti telah
berpikir kritis. Berpikir kritis berarti mengombinasikan apa yang telah Anda
ketahui dengan fakta baru yang diberikan, setelah itu baru Anda putuskan untuk mempercayainya
atau tidak. Berpikir kritis ini sangat penting karena tidak semua informasi
yang kita terima itu benar. Kita perlu menyaringnya dan melihat dari berbagai sudut
pandang sebelum mempercayainya. Berpikir kritis sangat penting ketika sedang
melakukan kerja ilmiah. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan data penelitian
yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
c)
Berani dan Santun dalam Mengajukan
Pertanyaan
Berani dan santun
dalam mengajukan pertanyaan adalah sikap ilmiah yang perlu kita miliki.
Terutama ketika kita bekerja sama dengan orang lain. Anda harus menjaga
kekompakan dan kerja sama yang baik. Ketika menganalisis suatu penjelasan,
mungkin ada hal-hal yang tidak dimengerti atau hal-hal yang dirasa janggal.
Untuk itu, Anda perlu mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan keterangan lebih
lanjut. Jangan takut untuk bertanya, tetapi ingat pula untuk mengajukan
pertanyaan secara santun. Mengapa? Karena seorang saintis yang baik adalah
seseorang yang dapat menghargai orang lain.
d)
Memiliki Rasa Ingin Tahu
Dasar dari
perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam adalah rasa ingin tahu terhadap alam
semesta. Ahli sains selalu ingin tahu apa, bagaimana, mengapa, atau di mana
terhadap segala sesuatu. Anda harus memiliki sikap ini sehingga timbul
keinginan untuk melakukan kegiatan ilmiah. Dari sikap ingin tahu, akan timbul
permasalahan yang mungkin membawa Anda pada penelitian yang berguna bagi
masyarakat. Dengan memiliki rasa ingin tahu, kita akan berusaha menemukan
jawaban dari berbagai permasalahan yang muncul di muka bumi ini.
e)
Tekun dan Peduli Lingkungan
Dalam melakukan
penelitian, ketekunan merupakan salah satu prasyarat dalam keberhasilan
penelitian. Jangan Anda putus asa dalam melakukan penelitian, kegagalan
merupakan bagian dari keberhasilan. Tidak sedikit penelitian yang gagal, namun
akhirnya berhasil. Tidak sedikit juga penyelidik yang berhasil setelah
mempelajari kegagalan dirinya sendiri maupun orang lain.
Sikap peduli
lingkungan juga harus tertanam dalam jiwa saintis karena suatu penelitian akan
sia-sia jika ternyata proses maupun hasilnya merusak lingkungan. Manusia
sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal, diberi kemampuan untuk
memanfaatkan dan memelihara lingkungan. Oleh karenanya, sikap peduli terhadap
lingkungan harus tetap dilakukan di manapun berada.
5. Metode
Ilmiah
Metode
ilmiah merupakan cara sistematis yang dilakukan para ilmuwan untuk memecahkan
masalah secara ilmiah. Secara sederhana,
metode ilmiah dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
a)
Melakukan observasi
Tahapan
observasi dilakukan untuk menemukan masalah. Dalam tahapan observasi ada dua
cara yang dapat dilakukan yaitu pengamatan kuantitatif dan kualitatif.
Pengamatan kuantitatif yaitu pengamatan dengan mengamati data berupa
angka-angka sedangakan pengamatan kualitatif adalah prngamatan yang dilakukan
menggunakan indera kita.
b)
Merumuskan Masalah
Masalah
merupakan pertanyaan apa, mengapa, atau bagaimana (ABDIKASIM: apa, bagaimana,
di mana, kapan, siapa, mengapa) tentang objek yang akan diteliti. Masalah yang akan
kamu teliti harus jelas batasannya. Sebaiknya masalah juga harus spesifik agar
mempermudah dalam pelaksanaan penelitian dan melakukan kontrol.
c)
Mengajukan Hipotesis
Hipotesis
menunjukkan kemungkinan-kemungkinanjawaban dari masalah yang sedang diteliti.
Jadi hipotesis merupakan dugaan sementara yang didukung oleh pengetahuan dan
teori relevan yang telah dimiliki. Hipotesis inilah yang harus kamu uji
kebenarannya melalui observasi atau eksperimen. Ada dua jenis hipotesis dalam
penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja atau
hipotesis alternatif berisi dugaan yang menyatakan bahwa perlakuan yang kamu
berikan dalam penelitian berpengaruh terhadap variabel yang kamu amati. Contoh:
kalor mempengaruhi suhu air. Sedangkan hipotesis nol merupakan kebalikan dari
hipotesis kerja yaitu dugaan yang menyatakan tidak ada pengaruh. Contoh: kalor
tidak mempengaruhi suhu air .
d)
Melakukan Eksperimen
Hipotesis
harus diuji dengan mengumpulkan berbagai fakta-fakta dan data yang relevan
untuk mengetahui apakah fakta-fakta dan data itu mendukung hipotesis yang kamu
ajukan atau tidak. Fakta dapat berupa observasi atau pengamatan, misalnya pengamatan
secara langsung atau dengan mikroskop. Data dapat kamu peroleh melalui
percobaan/eksperimen baik di lapangan maupun di laboratorium. Sebelum
melaksanakan penelitian kamu harus memahami pedoman keselamatan kerja di laboratorium
dan mengerti tahapan-tahapan yang akan dilaksanakan, termasuk variabel bebas,
variabel terikat, dan variabel kontrol, serta parameter-parameter yang akan
diamati. Variabel adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam percobaan dan
memiliki nilai yang dapat berubah atau diubah. Variabel yang muncul dalam
penelitian adalah variabel bebas, variabel terikat, variabel kontrol, dan
variabel pengganggu (galat atau kesalahan). Variabel bebas atau variabel
percobaan merupakan variabel yang sengaja dibuat tidak sama untuk menunjukkan
pengaruhnya terhadap variabel terikat. Variabel terikat adalah variabel yang
mengalami perubahan karena perlakuan variabel bebas. Variabel kontrol merupakan
variabel yang dibuat sama dalam suatu penelitian, biasanya faktor lain diluar
perlakuan yang dikenakan pada objek penelitian. Sedangkan variabel pengganggu
adalah variabel yang tidak diharapkan tetapi dapat mempengaruhi hasil
percobaan. Data yang diambil harus relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
Dalam pengumpulan data ini kamu harus menjunjung tinggi kejujuran dan
objektivitas agar hasil penelitian sesuai dengan kenyataan yang ada.
e)
Mengolah dan Menganalisis Data
Data
yang kamu peroleh dapat berupa data kuantitatif (berupa angka-angka, misalnya
tinggi, berat, panjang, luas, kandungan zat, dan sebagainya) maupun data
kualitatif (misalnya warna, tekstur, bentuk, dan sebagainya). Kamu harus
menggunakan alat ukur yang tepat dan standar sehingga diperoleh data
kuantitatif yang akurat. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis, ditafsirkan,
dan jika perlu diuji secara statistik sebagai dasar untuk menolak atau menerima
hipotesis yang telah diajukan.
f)
Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan
diambil berdasarkan data-data yang telah dianalisis dan diuji untuk menerima
atau menolak hipotesis yang diajukan. Hipotesis diterima bila data-data yang
dikumpulkan sesuai/mendukung pernyataan dalam hipotesis. Sebaliknya bila
data-data tidak sesuai maka hipotesis harus ditolak. Hipotesis yang diterima
menjadi pengetahuan yang diperoleh secara ilmiah dan menjadi bagian dari ilmu
pengetahuan.Sedangkan hipotesis yang ditolak bukan berarti penelitian itu gagal.
Mungkin ada beberapa hal yang dibenahi misalnya parameter yang diamati tidak
tepat, pengaturan variabel kurang sesuai, atau memang kenyataan bahwa hipotesis
yang diajukan harus ditolak. Jadi segala sesuatu perlu dikaji ulang atau bahkan
dilaksanakan penelitian ulang. Langkah-langkah dalam metode ilmiah harus
ditempuh secara bertahap dan berurutan karena langkah yang satu merupakan
landasan untuk mengerjakan langkah berikutnya.
Posting Komentar untuk "HAKIKAT FISIKA"