Pengaruh Problem-Based Learning Terhadap Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Materi Dinamika Fluida SMA kelas XI
Pengaruh Problem-Based Learning Terhadap Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Materi Dinamika Fluida SMA kelas XI
Oleh
: Nur Kamid.
email: nur13kamid@gmail.com
Abstrak
Selama ini fisika merupakan
mata pelajaran yang masih dianggap sulit oleh siswa karena terlalu banyak rumus-rumus
yang harus dihafal, begitu banyak konsep yang harusdi pahami, dan siswa sendiri
belum begitu menyadar ibahwa konsep-konsep materi pada pelajaran fisika sebenarnya
merupakan hasil dari pengamatan peristiwa fisis yang terjadi pada kehidupan sehari-hari.
Nah, dari sinilah PBL akan membelajarkan para siswa untuk melakukan pembelajaran
melalui investigasi masalah.
Rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah ”bagaimana pengaruh model
problem based learning terhadap kemampuan pemecahan masalah yang
dimiliki siswa kelas XI pada materi
Dinamika Fluida?”. Dalam penelitian ini yang akan menjadi populasi adalah
semua siswa kelas XI semester genap SMA N 1 Karanganyar. Sampel dalam penelitian
ini diambil menggunakan teknik cluster random sampling. Dalam pelitian ini,
bentuk soal dalam tes yang akan digunakan adalah soal uraian. Jenis penelitian ini
adalah Quasi experimental. Sedangkan desain yang digunakan adalah Non-equivalent
Control Group Design. Pada desain
ini kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol tidak dipilih secara random.
Berdasarkan data
hasil pretest yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol, nilai pretest kelas control
dan kelas eksperimen memiliki perbedaan yang sangat kecil. Perbedaan tersebut bisa dilihat dari nilai rata-rata
masing- masing kelas. Nilai rata-rata
kelas eksperimen sebesar 29 sedangkan nilai rata- rata kelas control
sebesar 30. Setelah dilakukan posttest,
nilai ketrampilan memecahkan masalah kelas eksperimen maupun kelas control sama-sama mengalami
peningkatan. Namun kelas eksperimen mangalami peningkatan yang lebih
signifikan dibandingkan dengan nilai kelas kontrol. Peningkatan yang signifikan
tersebut dapat dilihat darinilai rata-rata (mean)
siswa kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran problem based learning lebih
tinggi dibandingkan dengan siswa kelas kontrol yang menggunakan LKS penerbit.
Kelas eksperimen memperoleh nilai rata-rata sebesar 65 sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai 52.
Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), Kemampuan pemecahan masalah
|
I. PENDAHULUAN Masalah
merupakan hal yang selalu ada dalam hidup manusia. Manusia hidup tanpa
masalah adalah tidak mungkin. Dengan kata lain, manusia tidak akan bisa hidup
tanpa masalah entah itu masalah yang dianggap ringan, sedang, maupaun berat.
Akan tetapi manusia tersebut pasti akan berusaha untuk menyelesaikan
masalahnya dengan cara mencari solusi dari masalahnya. Dalam kehidupan
manusia, setelah masalah mendapatkan solusi, pasti akan muncul lagi masalah-
masalah yang lain, yang berhubungan dengan masalah sebelumnya ataupun masalah
yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah sebelumnya. Sehingga
kehidupan akan terus berlangsung dengan berbagai masalah. Namun wajib
bersyukurlah kita sebagai manusia yang hidup dengan masalah, karena dengan
masalah tersebut kita dapat belajar sepanjang hayat. Dalam proses
pembelajaran di sekolah, masalah bisa berperan sebagai stimulant agar siswa dapat terangsang untuk memiliki keterampilan
berfikir tingkat tinggi. salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi
adalah keterampilan menyelesaikan masalah. Masalah dalam pembelajaran di kelas adalah berupa tugas, soal dan
permasalahan yang berhubungan dengan materi pembelajan. Muijs & Reynolds
(2008: 186) mengatakan bahwa tugas-tugas mula-mula akan diuraikan agar dapat
dipecah menjadi sub-subtugas yang lebih mudah dikerjakan. Tugas-tugas ini
dapat ditangani dengan menggunakan strategi-strategi mengatasi masalah yang
telah diajarkan sebelumnya. Menurut Gorman (1974), faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, antara lain adalah kemampuan mencari informasi yang relevan. Siswa harus dapat membedakan informasi yang relevan dan yang tidak relevan terhadap masalah yang dihadapinya. Kemudian, faktor kemampuan dalam memilih pendekatan pemecahan masalah. Pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan pada Keterampilan bernalar berupa uji hipotesis lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang tidak berdasarkan pada keterampilan bernalar. Posamentier dan Stepelman (1999) memaparkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah dilihat dari aspek lingkungan belajar dan guru, antara lain: menyediakan lingkungan belajar yang mendorong kebebasan siswa untuk berekspresi, menghargai pertanyaan siswa dan ide-idenya, memberi kesempatan bagi siswa untuk mencari dan menemukan solusi dengan caranya sendiri, memberi penilaian terhadap orisinalitas ide siswa dan mendorong pembelajaran kooperatif yang mengembangkan kreativitas pemecahan masalah siswa. Dari berbagai faktor tersebut, mewujudkan pembelajaran dikelas dengan sebuah model pembelajaran yang memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah sangatlah penting.Model pembelajaran yang diharapkan adalah model pembelajaran yang mampu membelajarkan siswa berbasis pada masalah. Salah satu model pembelajaran berbasis masalah adalah model problem based learning (PBL). Dalam PBL, siswa akan belajar berbasis pada masalah yang sesuai dengan konteks kehidupan nyata. Sehingga pengalaman dari penyelesaian masalah akan sangat bermanfaat dan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pembelajaran tidak lagi dengan teacher centre melainkan dengan student centre. Keberhasilan PBL tidak lain karena PBL memiliki fitur-fitur khusus (special features) yaitu: driving question or problem, interdisciplinary focus, authentic investigation, production of artifacs and exhibits, and collaboration. Dengan demikian PBL tidak didesain untuk membantu guru menyampaikan sebagian besar informasinya pada siswa, guru hanya berperan sebagai fasilitator atau penyedia fasilitas dalam kegiatan belajar dan mengajar yang berlangsung. Pembelajaran PBL PBL terdiri atas lima fase utama yaitu: memberikan orientasi kepada siswa tentang permasalahannya, mengor- ganisasikan siswa untuk meneliti, membantu investigasi mandiri dan kelompok, mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit, dan menganalisis dan mengevaluasi pekerjaan. (Arends, 2007:70) Selama ini fisika merupakan mata pelajaran yang masih dianggap sulit oleh siswa karena terlalu banyak rumus-rumus yang harus dihafal, begitu banyak konsep yang harus dipahami, dan siswa sendiri belum begitu menyadari bahwa konsep-konsep materi pada pelajaran fisika sebenarnya merupakan hasil dari pengamatan peristiwa fisis yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Nah, dari sinilah PBL akan membelajarkan para siswa untuk melakukan pembelajaran melalui investigasi masalah. Sehingga muncullah asumsi oleh penulis bahwa penggunaan model Problem Based Learning diperlukan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran yang dilaksanakan terhadap kemampuan yang dimiliki siswa dalam memecahkan masalah. Dengan demikian, akan dilakukan penelitian untuk mengetahui adakah pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental yang dilaksanakan di kelas XI SMA N1 Karanganyar tahun ajaran 2020/2021. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitianini adalah cluster random sampling. Dengan sampel yang terpilih adalah kelas XI MIPA 1 dan XI MIPA 2. Kelas XI MIPA 1 merupakan kelas eksperimen dan kelas XI MIPA 2 merupakan kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam pnelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode tes. Metode tes menggunakan instrumen tertulis berupa soal- soal uraian yang penyusunannya didasarkan pada indikator kemampuan pemecahan masalah. Oleh E. Sujarwanto dkk. (2014). lebih spesifik lagi diberikan indikator kemampuan pemecahan masalah fisika yaitu: mengenali masalah, merencanakan stategi penyelesaian masalah, menerapkan strategi mengevaluasi strategi. Hipotesis kerja pada penelitian ini adalah penggunaan problem based learning (PBL) memberikan pengaruh terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi dinamika fluida kelas XI SMA N 1 Karanganyar. Untuk pengujian hipotesis digunakan uji independent sample t-test. uji independent sample t-test ini dilakukan untuk membandingkan rat-rata dari dua grup yang tidak saling berpasangan atau tidak saling berkaitan. III.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini adalah penelitian untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran problem based learning terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi dinamika fluida SMA kelas XI. Pengambilan data awal melalui pretest dilakukan pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Pretest tersebut bertujuan untuk mengetahui data pada kelas kontrol dan kelas eksperimen terdistribusi normal atau tidak serta untuk mengetahui kesamaan (homogenitas) kemampuan pemecahan masalah siswa awal sebelum masing-masing kelas diberikan perlakuan yang berbeda. Perlakuan tersebut adalah pada kelas kontrol dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah sedangkan pada kelas eksperimen dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model Problem based learning demikian juga untuk memperoleh data setelah masing-masing kelas mendapat perlakuan maka masing-masing kelas kontrol maupun kelas eksperiman dilakukan posttest. Uji normalitas dilakukan terhadap data hasil pretest dan posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Uji normalitas ini menggunakan rumus uji kai kuadrat (chi square test). Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data dari populasi yang berdistribusi normal jika memenuhi kriteria c2hitung<c2tabel,sedangkan jika memenuhi kriteria c2hitung>c2tabel maka data dari populasiberdistribusi tidak normal. Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari perhitungan dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kai-Kuadrat Keterangan: A adalah kelas eksperimen |
B adalah
kelas kontrol
Berdasarkan Tabel 1 di atas terlihat bahwa nilai c2hitung semua data lebih kecil dibandingkan nilai c2tabel, dengan c2tabel didapat dari tabel kai kuadrat statistik dengan taraf signifikansi (a) 5%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa ketrampilan memecahkan masalah siswa pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol terdistribusi normal.
Uji prasyarat berikutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan terhadap data hasil pretest dan posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan ketrampilan memecahkan masalah siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun uji homogenitas yang digunakan adalah rumus uji Fisher. Keputusan diambil berdasarkan pada ketentuan pengujian homogenitas yaitu jika Fhitung˃Ftabel, maka kelas tersebut di-nyatakan homogen,sedangkan jika Fhitung< Ftabel, maka kelas tersebut dinyatakan tidak homogen. Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari perhitungan dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut:
|
Tabel
2
Hasil Perhitungan Uji Homogenitas
|
|
A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan , dapat
disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran problem based learning (PBL)
memberikan pengaruh terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa pada materi
dinamika fluida kelas XI SMA N 1 Karanganyar.
B. SARAN 1.
Model
PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa, maka sebaiknya guru dapat
menerapkannya sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran 2.
Guru
perlu membiasakan pembelajaran dengan PBL untuk mengembangkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi siswa. 3.
Guru
harus mengetahui pengetahuan siswa tentangmatei pembelajaran yang akan digunakan
sebagai bekal siswadalam memacahkan masalah sebelum proses pembelajaranagar
masalah yang akan diecahkan tidak terlalu membebani siswa atau terlalu sukar
untuk dipecahkan. |
|
|
|
Posting Komentar untuk "Pengaruh Problem-Based Learning Terhadap Keterampilan Memecahkan Masalah Pada Materi Dinamika Fluida SMA kelas XI"