GEGEMPOKCA : Upaya Meningkatkan Minat Membaca di SMA Negeri 1 Karanganyar Demak
SMA Negeri 1 Karanganyar Demak
amurtiyastuti.gmail.com
Abstrak : Kemampuan peserta didik dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis masih rendah. Hal tersebut dapat juga kita sebut bahwa budaya literasi peserta didik tergolong rendah. Budaya literasi yang rendah tidak sejalan dengan visi yang disampaikan oleh pemerintah yaitu SDM Unggul, Indonesia maju. Visi tersebut seharusnya dapat dipahami dan ditindak lanjuti oleh pemangku kebijakan di sektor Pendidikan untuk dapat menciptakan inovasi guna meningkatkan literasi dan minat baca generasi penerus bangsa. Minat baca yang tinggi memberikan manfaat dalam peningkatan kemampuan daya nalar, mampu mengolah informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Namun, Strategi yang sudah dilakukan di sekolah saat ini masih belum menunjukkan minat baca yang maksimal. Ketersediaan perpustakaan dilingkungan sekolah juga belum menjadi solusi dari upaya peningkatan minat baca, peseta didik belum mampu memanfaatkan perpustakaan secara maksimal. Ketika jam istirahat mereka lebih memilih pergi ke kantin dibanding harus membaca buku di perpustakaan. Untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan upaya menyediakan buku-buku bacaan di dalam kelas, agar peserta didik mudah menjangkau buku bacaan dengan tidak harus pergi ke perpustakaan. Upaya tersebut saya namakan dengan GEGEMPOKCA yaitu Gerakan Gemar Membaca di Pojok Baca. Melalui Gegempokca peserta didik diberikan pembiasaan menjadikan Pojok baca sebagai salah satu tempat untuk pengembangan minat baca bagi peserta didik.
PENDAHULUAN
Sumber daya manusia (SDM) yang unggul menjadi kebutuhan semua bangsa di dunia. Termasuk Indonesia, telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia bahwa visi presiden tahun 2019-2024 adalah SDM Unggul, Indonesia Maju. Visi tersebut menjadi sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Salah satu upaya untuk mewujudkan SDM yang unggul adalah dengan menumbuhkan budaya literasi yang tinggi pada peserta didik. Dengan memiliki budaya literasi yang tinggi, peserta didik mampu bernalar dengan baik dan mengolah informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Sekolah sebagai tempat mendapatkan pengetahuan bagi peserta didik sebenarnya sudah layak dengan adanya perpustakaan di dalamnya guna meningkatkan budaya literasi peserta didik. Namun, permasalahan yang masih sering terlihat adalah peserta didik kadang malas untuk mendatangi Perpustakaan. Saat jam istirahat masih banyak peserta didik yang hanya menghabiskan waktunya di kantin dan hanya ada beberapa peserta didik yang pergi ke Perpustakaan untuk menyempatkan membaca buku yang mereka gemari. Selain ke kantin, saat jam istirahat peserta didik juga ada yang hanya menghabiskan waktu dengan bermain HPnya masing-masing. Tentu hal ini akan menjadi lebih baik jika mereka lebih tertarik kepada bahan bacaan berupa buku, bukan HP. Jika peserta didik tertarik dengan buku, kegemaran membaca peseta didik juga pasti meningkat dan efeknya budaya literasi juga meningkat. Budaya literasi, khususnya baca-tulis, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan, karena ilmu pengetahuan sejatinya dihasilkan melalui aktivitas membaca dan menulis.
Literasi merupakan kunci bagi kemampuan peserta didik, karena pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diraih dengan memiliki kemampuan membaca yang tinggi, bukan dengan menyimak atau mendengarkan. Persoalan rendahnya literasi peserta didik merupakan masalah serius yang sedang dihadapi oleh Pendidik. Suatu hal yang sangat kontradiktif jika dibandingkan dengan laju penggunaan internet dan media sosial yang trennya justru semakin menaik di kalangan peserta didik
Tidak dapat dipungkiri bahwa pikiran yang kritis lahir dari kebiasaan membaca dalam mempertanyakan segala sesuatu. Sayangnya, hal seperti ini belum menjadi kebiasaan cara berpikir yang baik, karena tingkat literasi yang masih sangat rendah. Literasi peserta didik masih rendah salah satunya karena mereka malas untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Mereka beralasan karena butuh waktu tertentu untuk sampai ke perpustakaan, mengingat jarak kelas dengan perpustakaan yang tidak terlalu dekat. Sehingga perlu dimaksimalkan pemanfaatan pojok baca di kelas.
Pojok baca kelas merupakan area di dalam kelas atau ruangan belajar yang dirancang khusus untuk membantu peserta didik meningkatkan minat dan kemampuan membaca mereka. Pojok baca kelas biasanya berisi berbagai macam bahan bacaan, seperti buku cerita, majalah, komik, buku referensi, dan lain sebagainya. Pojok baca di kelas berperan sebagai perpanjangan fungsi perpustakaan. Pojok baca dapat menjadi sarana yang efektif untuk memberikan akses kepada peserta didik dalam membaca buku sebagai upaya meningkatkan minat baca.
MINAT BACA DI SMAN 1 KARANGANYAR DEMAK
Minat dalam KBBI (2016b) diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dengan gairah atau semangat. Sementara itu, membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang berkaitan erat dengan kebutuhan hidup manusia. Sebagai keterampilan dasar yang dimiliki setiap orang, membaca menjadi penunjang kemampuan dasar manusia lainnya, yaitu menulis dan berbicara. Hal ini menandakan bahwa minat baca yang tinggi juga akan meningkatan kemampuan seseorang dalam menulis ataupun berbicara. Menurut Mansyur (2018) minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan membaca untuk memperoleh informasi, serta menimbulkan kesenangan dan manfaat bagi dirinya. Pada dasarnya, minat baca tumbuh karena adanya dorongan dari diri masing-masing. Namun demikian, lingkungan juga menjadi faktor utama tumbuhnya minat baca seseorang, sehingga untuk meningkatkannya perlu kesadaran setiap individu serta lingkungan yang mendukung.
Dari observasi yang saya lakukan di SMAN 1 Karanganyar Demak mengenai minat baca peserta didik, dapat dikatakan bahwa minat baca peserta didik masih tergolong rendah. Diantara penyebabnya adalah peserta didik tidak menyadari pentingnya membaca buku, peserta didik malas untuk pergi ke perpustakaan, terdapat pojok baca namun belum terisi oleh buku bacaan yang menarik bagi peserta didik. (lebih dominan buku paket pelajaran).
POJOK BACA DI KELAS SEBAGAI PERPANJANGAN FUNGSI PERPUSTAKAAN
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa standar sarana prasarana pendidikan mencakup ruang belajar, tempat olah raga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran. Jadi, perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat penting dalam menunjang proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan perpustakaan secara maksimal, peserta didik diharapkan terbiasa dengan aktivitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan pengetahuan. Perpustakaan seharusnya menjadi tempat yang tepat bagi peserta didik untuk melakuakan budaya literasi. Namun karena berbagai alasan, peserta malas untuk pergi ke perpustakaan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor rendahnya minat baca tersebut. Sebagai Pendidik mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya sangat prihatin dengan keadaan minat baca yang masih rendah tersebut. Beberapa alternatif solusi saya tawarkan kepada peserta didik guna memunculkan antusiasme dan minat dalam membaca buku. Alternatif solusi diantaranya membuat catatan tentang buku yang paling mereka sukai, membuat jadwal membaca, membaca di tempat yang nyaman, serta membentuk kelompok baca.
Penentuan solusi oleh peserta didik dari beberapa aletrnatif yang saya tawarkan dilakukan dengan pengisian angket. Hasilnya peserta didik memilih untuk melaksanakan kegiatan membaca secara berkelompok di pojok baca yang telah dibuat oleh masing-masing kelas dan dengan waktu yang telah ditentukan secara bergilir. Dengan hasil tersebut sudah disepakati bahwa pojok baca di kelas sebagai perpanjangan salah satu fungsi perpustakaan, yaitu tempat untuk menikmati rekreasi kultural dengan cara membaca.
GEGEMPOKCA (GERAKAN GEMAR KE POJOK BACA) SMAN 1 KARANGANYAR DEMAK.
Masih rendahnya budaya literasi peserta didik membuktikan bahwa proses pendidikan belum mampu mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilaksanakan selama ini juga belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat. Di sinilah peran perpustakaan, guru, dan pojok baca dalam memacu dan memotivasi peserta didik untuk gemar membaca.
Gagasan yang penulis tawarkan sebagai upaya meningkatkan minat baca di SMAN 1 Karanganyar Demak diantaranya membuat jadwal dan kelompok disetiap kelas untuk aktif menggunakan pojok baca, kegiatan tersebut penulis sebut sebagai program GEGEMPOKCA. Program GEGEMPOKCA akan menjadikan peserta didik lebih aktif dalam meningkatkan budaya literasi peserta didik SMAN 1 Karanganyar Demak. Peserta didik lebih mudah dalam menjangkau bahan bacaan yang telah tersedia di pojok baca. Pojok baca harus berisi buku-buku yang menarik bagi peserta didik agar peserta didik lebih gemar dalam membaca dan akhirnya minat baca mereka meningkat. Dalam progam GEGEMPOKCA semua warga sekolah harus saling berkolaborasi demi tercapainya minat baca yang tinggi di kalangan peserta didik SMAN 1 Karanganyar Demak. Dalam GEGEMPOKCA wali kelas, guru, dan duta pojok baca berperan penting dalam upaya lancarnya program tersebut.
PENUTUP
Pengembangan budaya literasi di SMAN 1 Karanganyar Demak menjadi kunci bagi peserta didik untuk memiliki kemampuan pemahaman dan berpikir kritis yang baik. Lebih rinci lagi, minat baca peserta didik yang tinggi dapat meningkatkan pemahaman dan daya nalar dalam mengolah informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Warga SMAN 1 Karanganyar harus sama-sama mengambil peran dalam merancang dan memaksimalkan strategi peningkatan minat baca, salah satunya dengan melaksanakan program GEGEMPOKCA, auatu program kegiatan gemar membaca di pojok baca yang tersedia di dalam ruang kelas peserta didik. Melalui GEGEMPOKCA peserta didik diberikan pemahaman dan pembiasaan untuk menjadikan pojok baca sebagai sumber belajar yang penting di kelas agar minat baca peserta didik meningkat. Dengan demikian GEGEMPOKCA menjadi program pengembangan minat baca bagi peserta didik di SMAN 1 Karanganyar Demak.

Posting Komentar untuk "GEGEMPOKCA : Upaya Meningkatkan Minat Membaca di SMA Negeri 1 Karanganyar Demak"