Menjadi Guru yang Baik Ala Nabi Muhammad SAW
Menjadi Guru yang Baik Ala Nabi Muhammad SAW
Lalu bagaimana cara memaknai kata mengajar dengan tepat? Apakah benar guru hanya bertugas mengajar saja? Nanti kita akan membahasnya secara detail.
Lalu bagaimana
cara memaknai kata mengajar dengan tepat? Apakah benar guru hanya
bertugas mengajar saja? Nanti kita akan membahasnya secara detail.
Secara lintas sejarah, guru
senantiasa menjadi orang yang memegang peranan penting dalam perkembangan
sebuah peradaban. Tidak hanya di dunia pendidikan saja, namun juga hampir di
seluruh sendi kehidupan. Dalam sejarah Mesir kuno, misalnya guru-guru itu
adalah filsuf yang menjadi penasihat raja. Kata-kata guru menjadi pedoman dalam
memimpin sebuah negara. Dalam zaman kegemilangan falsafah Yunani, Socrates,
Plato, sampai Aristoteles adalah guru-guru yang mempengaruhi perjalanan hebat
sejarah Yunani.
Dalam konteks pendidikan Islam,
guru dikenal dengan pendidik, yang merupakan terjemahan dari berbagai kata,
yakni murrabi, mu’alim, dan mu’adib. Dari ketiga kata tersebut
memiliki kesamaan makna, namun mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan konteks
kalimatnya. Walaupun seperti itu, ketiga kata tersebut relevan dengan konsep
pendidikan Islam.
Peranan penting seorang guru dalam
menjalankan tugasnya, yang tidak hanya mengajar, akan tetapi juga
terdapat tugas penting dalam dunia pendidikan, yaitu mendidik, membimbing,
dan melatih. Itulah mengapa guru harus mempunyai wawasan dan pengetahuan
yang luas, termasuk metode, tehnik, serta strategi dalam mengajar, mendidik,
membimbing, dan melatih para siswa. Dengan menguasai berbagai macam metode,
seorang guru dapat mengantarkan anak didiknya menjadi siswa yang sukses dan
berhasil. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk terus belajar menjadi
guru yang baik.
Sekarang yang menjadi pertanyaan
selanjutnya, seperti apakah guru yang baik itu? Sampai saat ini, belum ada
pedoman baku mengenai kriteria guru yang baik. Namun setidaknya, guru yang baik
dapat dilihat dari dari caranya dia mengajar di kelas, kemampuannya mengarahkan
peserta didik tentang mempelajar suatu hal, atau kepiawaiannya membuat peserta
didik menjadi seorang pembelajar yang sejati. Lalu bagaimanakah cara untuk bisa
menjadi guru yang seperti itu? Ya sekali lagi, seorang guru harus banyak
belajar. Jangan sampai berhenti untuk belajar banyak hal. Belajar bagi seorang
guru tentu saja tidak hanya melulu dari buku, tetapi juga belajar dapat
dilakukan dengan cara mengambil hikmah (inspirasi) dari guru-guru hebat pada
masa sebelumnya (masa lampau). Dan salah satu guru yang kita patut dijadikan
inspirasi, rujukan, serta mengikuti metode dan strateginya dalam mengajar
adalah Sang Maha Guru sejati, yakni Nabi Muhammad SAW.
Bagi Nabi Muhammad SAW, menjadi
guru merupakan tugas kerasulan yang harus beliau emban. Hal ini sudah di
persiapkan oleh Alloh SWT, sesuai dengan firman-Nya pada Q.S. Al Jumu’ah ayat 2
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum
yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya
kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah
(sunnah). Dan, sesungguhnya, mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata”
Selain itu,
Nabi Muhammad SAW juga telah memberitahukan kepada sahabat serta kaumnya jika
Beliau diutus oleh Alloh SWT untuk menjadi pendidik bagi kaumnya. Seperti yang
dituliskan oleh Mu’awiyah Bin Hakam,
“Aku belum pernah melihat
seorang pendidik yang lebih baik dari beliau, baik sebelum maupun sesudahnya”. (HR.
Muslim)
Nabi Muhammad
SAW telah bersungguh-sungguh dalam mendidik para sahabat dan generasi muslim
dengan cara yang lemah lembut namun tegas. Hingga mereka memiliki kesempurnaan
akhlak, kesucian jiwa, dan karakter yang bersih.
Dalam perspektif psikologi
pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatang seseorang (guru)
yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi
perilakunya. Perilaku itu meliputi tingkah laku yang bersifat terbuka, seperti
keterampilan membaca (ranah karsa), juga bersifat tertutup seperti berpikir
(ranah cipta) dan berperasaan (ranah rasa). Sebagai seorang guru, Nabi Muhammad
SAW, tidak hanya berorientasi kepada kecakapan-kecakapan ranah cipta, namun
juga mencakup dimensi ranah rasa dan karsa.
Bahkan lebih dari itu, Nabi
Muhammad SAW sudah menunjukkan kesempurnaan sebagai seorang pendidik sekaligus
pengajar, karena beliau dalam pelaksanaan pembelajarannya sudah mencakup semua
aspek yang terdapat dalam pendidikan, yaitu harus bersifat kognitif (beliau
mengeluarkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain), bersifat
psikomotorik (beliau melatih keterampilan jasmani kepada para sahabatnya), dan
bersifat afektif (beliau selalu menanamkan nilai dan keyakinan kepada
sahabatnya).

Posting Komentar untuk "Menjadi Guru yang Baik Ala Nabi Muhammad SAW"