Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi
Implementasi Pembelajaran
Berdiferensiasi
Oleh: Adi Suprapto, S.Pd (Guru Fisika SMAN 1 Jekulo Kudus)
Setiap siswa itu unik
Manusia diciptakan dengan bentuk yang
beragam. Kita dapat melihatnya dari pengamatan dan interaksi sosial. Perbedaan
itu terbagi menjadi dua yaitu dari segi fisik maupun non fisik. Dari segi
fisik, perbedaan seperti jenis kelamin, tinggi badan, warna kulit, warna
rambut, bentuk wajah, dan lain-lain. Lain hal dari segi non fisik, perbedaan
itu seperti tingkah laku, karakter, pandangan hidup, prinsip hidup, gaya
belajar, kekuatan-kelemahan, dan minat bakatnya.
Semboyan bangsa Indonesia yaitu
Bhineka Tunggal Ika telah mengajarkan kepada kita tentang perbedaan dan
persatuan. Kesamaan identitas mencegah Indonesia tercerai berai karena dilatari
keragaman budaya. Semboyan ini sangat penting untuk mempersatukan bangsa
Indonesia, mempertahankan kesatuan bangsa, meminimalisir konflik atas
kepentingan pribadi atau kelompok. Bagaimana memberikan pemahaman tersebut
kepada siswa?
Gambar 1: Pembelajaran berdiferensiasi
media poster
Pendidikan merupakan tonggak efektif
dalam membentuk peradaban yang baik. Ki Hajar Dewantara (KHD) memberikan
pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. Menurut KHD, “Pendidikan
bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar
mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Sebagai seorang pendidik, kita wajib memahami bahwa para siswa memiliki beragam
karakter, kebutuhan, minat, bakat, gaya belajar, kekuatan dan kelemahannya.
Jadi, tidak perlu menyamaratakan kemampuan siswa karena mereka unik dengan
kodrat masing-masing.
Konsep Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran yang baik perlu
memperhatikan kebutuhan dan kodrat peserta didik dinamakan pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran berdiferensiasi awalnya dikenalkan oleh (Carol Ann Tomlinson &
Moon, 2014); (Carol Ann Tomlinson, 1999). Yang menyatakan “Pembelajaran
berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir, melayani, dan mengakui
keberagaman siswa dalam belajar sesuai dengan kesiapan, minat, dan preferensi
belajar siswa.”
Pembelajaran
berdiferensiasi mengakomodir kebutuhan belajar murid, guru memfasilitasi murid
sesuai dengan kebutuhannya karena setiap murid mempunyai karakteristik yang
berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal
yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti
pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk
setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar
dengan yang kurang pintar.
Ciri-ciri
atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar
mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang
didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi
atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.
Contoh
kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses
pembelajaran guru menggunakan beragam cara agar murid dapat mengeksploitasi isi
kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid
dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam
pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh
kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih
memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid.
Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terenuhi karena ketika proses
pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak
memberikan beragam kegiatan dan beragam pilihan.
Gambar 2: Pembelajaran berdiferensiasi
presentasi di depan kelas
Untuk
dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan
oleh guru antara lain:
1. Melakukan pemetaan
kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat
belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi,
atau survey menggunakan angket, dll)
2. Merencanakan pembelajaran
berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik
dari strategi, materi, maupun cara belajar)
3. Mengevaluasi dan erefleksi
pembelajaran yang sudah berlangsung.
Pemetaan
kebutuhan belajar merupakan kunci pokok kita untuk dapat menentukan langkah
selanjutnya. Jika hasil pemetaan kita tidak akurat maka rencana pembelajaran
dan tindakan yang kita buat dan lakukan akan menjadi kurang tepat. Untuk
memetakan kebutuhan belajar murid kita juga memerlukan data yang akurat baik
dari murid, orang tua/wali, maupub dari lingkungannya. Apalagi dimasa pandemi,
dimana murid melaksanakan pembelajaran semi daring sehingga interaksi secara
langsung antara guru dengan murid sangat jarang. Akibatnya data yang kita
kumpulkan untuk memetakan kebutuhan belajar murid sulit kita tentukan valid
atau tidaknya. Dukungan dari orang tua dan murid untuk memberikan data yang
lengkap dan benar sesuai kenyataan yang ada. Tidak ditambahi dan juga tidak
dikurangi. Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan
kebutuhan belajar, baik elalui wawancara, angket, survey, dll.
Metode dan Teknik Pembelajaran
Pembelajaran berdiferensiasi,
mengakomodir dengan persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat meliputi diferensiasi konten, diferensiasi
proses dan diferensiasi produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan
belajar murid. Bagaimana perwujudan implementasinya? Mari kita simak deskripsi
berikut ini.
Terdapat
tiga strategi diferensiasi diantaranya;
1. Direfensiasi
konten
Konten
adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai
tanggapan terhadapa kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi
dari ketiganya. Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan
belajar murid.
2. Diferensiasi
proses
Proses
mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.
Diferensiasi
proses dapat dilakukan dengan cara:
a. menggunakan
kegiatan berjenjang
b. meyediakan
pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,
c. membuat
agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang
murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas,
d. mengembangkan
kegiatan bervariasi
3. Diferensiasi
produk
Produk
adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada
kita (karangan, pidato, rekaman, doagram) atau sesuatu yang ada wujudnya.
Produk
yang diberikan meliputi 2 hal:
a. memberikan
tantangan dan keragaman atau variasi,
b. memberikan
murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang
diinginkan.
Penerapan
pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak bagi sekolah, kelas, dan
terutama kepada murid. Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda,
tidak semua murid bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak
memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan murid maka hal tersebut dapat
menghambat murid untuk bisa maju dan berkembang belajarnya. Dampak dari kelas
yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi antara lain; setiap orang merasa
disambut dengan baik, murid dengan berbagai karakteristik merasa dihargai,
merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai
kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan murid berkolaborasi,
kebutuhan belajar murid terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dari beberapa
dampak tersebut diharapkan akan tercapai hasil belajar yang optimal.
Dalam
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tentunya kita akan mengalami berbagai
tantangan dan hambatan. Guru harus tetap dapat bersikap positif, Untuk tetap
dapat bersikap positif meskipun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran
berdiferensiasi adalah:
1. Terus belajar dan berbagi
pengalaman dengan teman sejawat lainnya yang mempunyai masalah yang sama dengan
kita (membentuk Learning
Community)
2. Saling mendukung dan
memberi semangat dengan sesama teman sejawat.
3. Menerapkan apa yang sudah
kita peroleh dan bisa kita terapkan meskipun belum maksimal.
4. Terus berusaha untuk
mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran yang sudah
diterapkan
Pembelajaran
berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar
Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, serta budaya
positif. Salah satu filosofi pendidkan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem
“among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan
kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah
satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang
berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan
potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Salah
satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar
pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan
pembelajaran berdiferensiasi. Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat
mendukung pembelajaran berdirensiasi.
Semoga dengan memahami pembelajaran berdiferensiasi, konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dan kurikulum merdeka kita dapat menjadi pendidik profesional. Pendidik yang memerdekakan siswa sesuai minat bakatnya. Sehingga keberhasilan belajar tidak melulu dimaknai dengan nilai yang tinggi, tapi upaya menciptakan suasana belajar menyenangkan, bahagia, dan damai.



Bagus pak adi, sangat bermanfaat
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus